بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على سيد المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد.
Hari ini kalender telah menunjukkan angka di
penghujung pekan pertama bulan Ramadan 1443H. Banyaknya kegiatan keagamaan yang
telah dan akan diikuti, baik yang bersifat formal di institusi-insitusi
Pendidikan ataupun non formal di majelis-majelis taklim yang ada di masyarakat
hendaknya semakin mendekatkan seseorang kepada Allah SWT dan menambah iman
kepada-Nya.
Sebagai insan lemah yang tidak bisa mengendalikan
takdir sebagai makhluk dan diciptakan oleh Khaliknya, dengan segala
keterbatasannya manusia tidak bisa keluar dari koridor aturan main dalam
hidupnya yang serba sementara di dunia dalam bentuk perintah yang harus
dikerjakan atau larangan yang harus dijauhi. Namun sebagai khalifah yang
bertugas mengelola, mengatur, mengendalikan, dan membangun serta meramaikan
dunia seisinya ini sebagai wujud perpanjangan kekuasaan Allah SWT, manusia
wajib mengerahkan segenap usaha dan dayanya untuk memberikan yang terbaik dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya itu, selebihnya serahkan hasil sepenuhnya
kepada Allah SWT yang telah membuat scenario utk hamba-hamba-Nya di muka bumi.
Akal pikiran yang menjadi tolok ukur paling formal
dalam menata dunia ini hendaknya dijadikan objek strategis untuk terus diasah
dan dikembangkan. Walaupun disana masih ada dimensi lain selain akal pikiran
yang tidak kalah pentingnya untuk dipersiapkan yaitu dimensi spiritual.
Orientasi hidup setelah mati dan keyakinan akan datangnya hari akhir kiamat
ketika berhasil dikolaborasikan dengan pembangunan akal pikiran manusia akan
bisa menciptkan kehidupan seseorang yang seimbang antara nalar intelektual dan
sentuhan spiritual.
Penganut atheis yang tidak percaya akan adanya
kehidupan abadi setelah alam dunia berakhir, hidupnya akan berakhir seiring
dengan berakhirnya tarikan nafas terakhir yang keluar dari tenggorokannya.
Jasad manusia dalam benaknya tidak berbeda dengan bangkai binatang yang mati di
pedalaman hutan akan hancur dan menguap. Sebenarnya tidak butuh otak yang
sangat cerdas untuk menemukan Allah SWT sebagai zat yang Maha Pencipta, cukup
berpikir sederhana bahwa segala sesuatu pasti ada penciptanya, dan semua
pencipta itu pasti ada yang Maha Pencipta yang tidak ada lagi pencipta sebelum
dan sesudahnya dan itulah wujud sejati yang Maha Kekal. Adanya alam semesta ini
mustahil kalau secara kebetulan tanpa ada yang menciptakan.
Fungsi Nabi dan Rasul yang diutus kepada umat manusia
dengan kitab suci yang diturunkan kepadanya menempati posisi paling vital yaitu
sebagai jembatan penghubung antara manusia sebagai makhluk dan Allah SWT
sebagai khalik atau pencipta-Nya. Tanpa tuntunan kitab suci sebenarnya manusia
sudah menolak eksistensi dirinya yang ada di dunia secara kebetulan. Adanya
penyembahan terhadap matahari, bintang-bintang di langit atau berhala-berhala
yang dibuatnya sendiri bahkan kepada api sekalipun menjadi bukti kebutuhan
manusia untuk mempunyai sandaran vertical. Sehingga melalui ajaran nabi dan
tuntunan orang-orang suci yang bersumber pada wahyu yang otentik dan terjaga
dari penyimpangan, manusia akhirnya menemukan jatidiri dan dikenalkan siapa
sebenarnya penciptanya atau tuhan yang yang sebenarnya. Ini sangat berbeda
dengan kitab yang diklaim suci, namun realitanya tidak jelas versi bahasa apa
yang dianggap asli itu, karena semuanya diklaim asli dengan deretan amandemen
perubahan yang dilakukan oleh para pemuka agamanya sendiri.
Semoga kegiatan Ramadan tahun ini bisa kita maksimalkan, sehingga visi misi
yang dituju bisa kita capai yaitu supaya kita bisa menjadi pribadi yang
bertakwa, amin.
Penulis : Dr. Ali Burhan, MA
Pewarta : Taufiqul Rahman Syarif
Posting Komentar